Rabu, 14 Maret 2012

PENDIDIKAN ISLAM DAN ILMU PENGETAHUAN TEKNOLOGI ( IPTEK)

muhammad arasy.



PENDIDIKAN ISLAM DAN ILMU PENGETAHUAN TEKNOLOGI ( IPTEK)
A.   FAKTOR PERKEMBANGAN ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI
Kemajuan teknologi dalam tiga dasawarsa ini telah menampakkan pengaruhnya pada setiap dan semua kehidupan individu, masyarakat dan negara. Dapat dikatakan bahwa tidak ada orang yang dapat menghindar dari pengaruh perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), IPTEK bukan saja dirasakan individu, akan tetapi dirasakan pula oleh masyarakat, bangsa dan negara.
Kehadiran IPTEK di negara-negara maju, sudah lama dirasakan pengaruhnya, karena pada negara-negara tersebutlah kemajuan itu mula-mula dicapai. Sebaliknya bagi negara-negara berkembang, pengaruh tersebut baru mulai dirasakan antara lain seperti dalam bidang informasi, buku-buku, media TV, radio, video, internet dan lain sebagainya.
Sekarang yang menjadi persoalan sekaligus pertanyaan bagi kita tentunya adalah bagaimana dengan eksistensi pendidikan Islam dalam menghadapi arus perkembangan IPTEK yang sangat pesat tersebut. Bagaimanapun tampaknya pendidikan Islam (terutama lembaganya) dituntut untuk mampu mengadaptasikan dirinya dengan kondisi yang ada. Disamping dapat mengadaptasi dirinya, pendidikan Islam juga dituntut untuk menguasai IPTEK, dan kalau perlu merebutnya.
Kenyataan untuk merebut teknologi dan ilmu pengetahuan tersebut adalah sangat penting, sebab sekarang pembangunan nasional diarahkan dengan orientasi pada teknologi industri, dalam hal ini tak terkecuali dalam bidang pendidikan.
Menurut Prof. Dr. Ing. BJ. Habibie, ada lima prinsip yang harus diikuti untuk mencapai penguasaan IPTEK yaitu:
a.    Melakukan pendidikan dan pelatihan sumber daya manusia (SDM) dalam bidang IPTEK yang       relevan dengan pembangunan bangsa.
b.     Mengembangkan konsep masyarakat teknologi dan industri serta melakukan usaha serius dalam                 merealisasikan konsep tersebut.
c.     Adanya transfer, aplikasi dan pengembangan lebih jauh dari teknologi yang diarahkan pada        pemecahan masalah-masalah nyata.
d.       Kemandirian teknologi, tanpa harus bergantung ke luar negeri.
e.     Perlu adanya perlindungan terhadap teknologi yang dikembangkan di dalam negeri hingga          mampu bersaing di arena internasional.[1]
Sementara itu pendidikan Islam yang tugas pokoknya menelaah dan menganalisis serta mengembangkan pemikiran, informasi dan fakta-fakta kependidikan yang sama sebangun dengan nilai-nilai ajaran Islam dituntut harus mampu mengetengahkan perencanaan program-program dan aktivitas-aktivitas operasional kependidikan, terutama yang berkaitan dengan pengembangan dan pemanfaatan IPTEK sebagaimana digambarkan diatas.
B.   STRATEGI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM MENGHADAPI TANTANGAN MODERNISASI BERKAT KEMAJUAN IPTEK.

Pendidikan Islam mempunyai sesuatu kekuatan yang sangat signifikan dipertahankan atau dikembangkan. Hal ini mungkin dapat dilihat dari tataran filosofis atau konseptual dan Pengalaman selama ini dari lembaga-lembaga pendidikan Islam yang dari waktu ke waktu telah mampu tumbuh di tengah-tengah dinamika masyarakat.
a.  Motivasi kreatifitas anak didik ke arah pengembangan IPTEK itu sendiri, dimana nilai-nilai Islam menjadi sumber acuannya.
b.  Mendidik keterampilan, memanfaatkan produk IPTEK bagi kesejahteraan hidup umat manusia  pada umumnya dan umat Islam pada khususnya.
c.  Menciptakan jalinan yang kuat antara ajaran agama dan IPTEK, dan hubungan yang akrab  dengan para ilmuwan yang memegang otoritas IPTEK dalam bidang masing-masing.
d.  Menanamkan sikap dan wawasan yang luas terhadap kehidupan masa depan umat manusia      melalui kemampuan menginterpretasikan ajaran agama dari sumber-sumbernya yang murni dan       kontekstual dengan masa depan kehidupan manusia.[2]
Jadi kesanalah pendidikan Islam diarahkan, agar pendidikan Islam tidak hanyut terbawa arus modernisasi dan kemajuan IPTEK. Strategi tersebut merupakan sebagian solusi bagi pendidikan Islam untuk bisa lebih banyak berbuat. Kendatipun demikian, pendidikan Islam tentu saja tidak boleh lepas dari Idealitas Al-Qur’an dan As-Sunnah yang berorientasikan kepada hubungan manusia dengan Allah SWT. (Hablumminallah), hubungan manusia dengan sesamanya (Hablumminannas) dan dengan alam sekitarnya.
Dari ketiga orientasi tersebut, tampaknya hubungan dengan alam sekitar menjadi dasar pengembangan IPTEK, sedang Hablumminallah menjadi dasar pengembangan sikap dedikasi dan moralitas yang menjiwai pengembangan IPTEK, sedang Hablumminannas menjadi dasar pengembangan hidup bermasyarakat yang berpolakan atas kesinambungan, keserasian, dan keselarasan dengan nilai-nilai moralitas yang berfungsi menentramkan jiwa manusia, sehingga terciptalah kedamaian.



Firman allah dan sabda nabi saw., berikut mengajak kearah sikap dan ketajaman wawasan tersebut :
http://www.muslimaccess.com/quraan/arabic/059_files/59_18.gif
Artinya : wahai orang-orang beriman bertakwalah kepada allah dan hendaklah setiap diri manusia memperhatikan hal-hal apa yang hendak dilaksanakan hari esok. Dan bertakwalah kamu kepada allah sesungguh nya allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. ( al-hasyr ayat:18)[3]

C.   TANTANGAN PENDIDIKA ISLAM DI ERA GLOBALISASI
Dengan demikian, era globalisasi adalah tantangan besar bagi dunia pendidikan. Dalam konteks ini, Khaerudin Kurniawan (1999), memerinci berbagai tantangan pendidikan menghadapi ufuk globalisasi.

Pertama, tantangan untuk meningkatkan nilai tambah, yaitu bagaimana meningkatkan produktivitas kerja nasional serta pertumbuhan dan pemerataan ekonomi, sebagai upaya untuk memelihara dan meningkatkan pembangunan berkelanjutan (continuing development ).

Kedua, tantangan untuk melakukan riset secara komprehensif terhadap terjadinya era reformasi dan transformasi struktur masyarakat, dari masyarakat tradisional-agraris ke masyarakat modern-industrial dan informasi-komunikasi, serta bagaimana implikasinya bagi peningkatan dan pengembangan kualitas kehidupan SDM.

Ketiga, tantangan dalam persaingan global yang semakin ketat, yaitu meningkatkan daya saing bangsa dalam menghasilkan karya-karya kreatif yang berkualitas sebagai hasil pemikiran, penemuan dan penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni.

Keempat, tantangan terhadap munculnya invasi dan kolonialisme baru di bidang Iptek, yang menggantikan invasi dan kolonialisme di bidang politik dan ekonomi.[4]

Semua tantangan tersebut menuntut adanya SDM yang berkualitas dan berdaya saing di bidang-bidang tersebut secara komprehensif dan komparatif yang berwawasan keunggulan, keahlian profesional, berpandangan jauh ke depan (visioner), rasa percaya diri dan harga diri yang tinggi serta memiliki keterampilan yang memadai sesuai kebutuhan dan daya tawar pasar.
Kemampuan-kemampuan itu harus dapat diwujudkan dalam proses pendidikan Islam yang berkualitas, sehingga dapat menghasilkan lulusan yang berwawasan luas, unggul dan profesional, yang akhirnya dapat menjadi teladan yang dicita-citakan untuk kepentingan masyarakat, bangsa dan negara.
D.   PERENCANAAN PROGRAM PENDIDIKAN ISLAM
Dalam merencanakan program ini kita perlu mengidentifikasikan delapan masalah pokok.
a.    Apkah ajaran islam memberikan ruang lingkup berfikir kreatif manuia dan sejauhmana ruang lingkup tersebut diberikan kepada manusia.
b.    Potensi psikologis apasajakah yang menjadi sasaran pendidikan islamterutama dalam kaitan nya dengan kreatifitasyang berhubungan dengan perkembangan iptek.
c.    Bagaimana sistem metode pendidikan yang tepat guna dalam proses kependidikan islam yang kontekstual dengan iptek tersebut.
d.    Keterampilan-keterampilan apa saja kah yangdiperlukan anak didik dalam mengelola dan memanfaatkan iptek modren sehingga dapat menyejahterakan kehidupan manusia, khusus nya umat islam.
e.    Sampai seberapa jauh anak didik diharapkan mampu mengendalikan dan menangkal dampak-dampak negatif dari iptek.
f.     Sebalik nya, apakah nilai moral dan sosial keagamaan mampu memberikan dampak positif terhadap kemajuan iptek modren tersebut.
g.    Kompetensi guru agama apkah yang harus dimiliki sebagai hasil (produk) lembaga pendidikan profesional keguruan yang dapat diandalkan untuk menghadapi modernitas umat berkat kemajuan iptek tersebut./
h.    Gagasan baru apa sajakah yang harus dirumuskan kembali dalamerencanaan pendidikan jangka panjang dan pendek.[5]  

E.    TUJUAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
Secara umum, Pendidikan Agama Islam bertujuan untuk meningkatkan keimanan, pemahaman, penghayatan, dan pengamalan peserta didik tentang agama Islam, sehingga menjadi manusia muslim yang beriman dan bertaqwa kepada Allah swt, serta berakhlak mulia dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.  Dari tujuan tersebut, dapat ditarik beberapa dimensi yang hendak ditingkatkan dan dituju oleh kegiatan Pendidikan Agama Islam, yaitu :

1) Dimensi Keimanan peserta didik terhadap ajaran agama Islam.
2) Dimensi Pemahaman atau Penalaran (intelektual) serta keilmuan peserta didik terhadap ajaran agama Islam.
3) Dimensi Penghayatan atau Pengalaman batin yang dirasakan peserta didik dalam menjalankan ajaran agama Islam.
4) Dimensi Pengamalannya, dalam arti bagaimana ajaran Islam yang telah diimani, dipahami dan dihayati oleh peserta didik itu mampu diamalkan dalam kehidupan pribadi, sebagai manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Allah swt dan berakhlak mulia, serta diaktualisasikan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.[6]

Tujuan Pendidikan Agama Islam yang bersifat umum itu, kemudian dijabarkan dalam tujuan khusus pada setiap jenjang Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah. Pendidikan Agama Islam pada jenjang pendidikan dasar, bertujuan memberikan kemampuan dasar kepada peserta didik tentang agama Islam untuk mengembangkan kehidupan beragama, sehingga menjadi manusia muslim yang beriman dan bertaqwa kepada Allah swt serta berakhlak mulia sebagai pribadi, anggota masyarakat, warga negara dan umat manusia.
Tujuan pendidikan merupakan suatu kondisi yang menjadi target penyampaian pengetahuan. Tujuan ini merupakan acuan dan panduan untuk seluruh kegiatan yang terdapat dalam seluruh system pendidikan. Tujuan pendidikan Islam adalah untuk mempersiapkan anak didik atau individu dan menumbuhkan segenap potensi yang ada, baik jasmani maupun rohani agar dapat hidup dan berpenghidupan sempurna, sehingga ia dapat menjadi anggota masyarakat yang berguna bagi dirinya dan umatnya.
Dengan demikian dapat dilihat bagaimana tujuan pendidikan Islam yang dirumuskan oleh Al-Ghazali dalam kitabnya, seperti yang dikutip oleh Zainuddin, dkk, yaitu:
1.    Mempelajari ilmu pengetahuan semata-mata untuk ilmu pengetahuan itu saja.Al-Ghazali dalam bukunya, seperti dikutip oleh Zainuddin, dkk, mengatakan bahwa: Apabila engkau mengadakan penelitian atau penalaran terhadap ilmu pengetahuan, maka engkau akan melihat kelezatan padanya, oleh karena itu tujuan mempelajari ilmu pengetahuan adalah karena ilmu pengetahuan itu sendiri.
2.    Tujuan utama pendidikan adalah pembentukan akhlak .Al-Ghazali mengatakan bahwa: Tujuan murid mempelajari segala ilmu pengetahuan pada masa sekarang adalah kesempurnaan akhlak dan keutamaan jiwanya.
3.     Tujuan pendidikan adalah untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.
Bagi Al-Ghazali menimba pengetahuan tidaklah semata-mata untuk tujuan akhirat, akan tetapi terdapat keseimbangan tujuan hidup termasuk kebahagiaan di dunia.

Dan sesungguhnya engkau mengetahui bahwa hasil ilmu pengetahuan adalah pendekatan diri pada Tuhan pencipta alam, menghubungkan diri dan berhampiran dengan ketinggian malaikat, demikian itu adalah akhirat. Adapun di dunia adalah kemuliaan, kebesaran, pengaruh pemerintahan bagi pemimpin Negara dan penghormatan menurut kebiasaannya.
Untuk mencapainya sebuah tujuan dalam pendidikan Islam, maka unsur dalam pendidikan itu haruslah dirumuskan dengan baik. Program yang akan dijadikan rujukan dalam pelaksanaan pendidikan Islam tentunya harus sinergis dengan tujuan yang ingin dicapai, berdasarkan nilai-nilai Islam, termasuk tujuan manusia diciptakan di muka bumi ini
BAB III
PENUTUP
A.   KESIMPULAN
Dari uraian diatas, dapat kita ambil sedikit kesimpulan bahwa tantangan pendidikan islam sangatlah berat dalam menghadapi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi oleh sebab itu pendidikan agama islam harus bisa memfilter budaya-budaya yang masuk melalui perkembangan iptek tersebut. kebijakan pendidikan Islam di Indonesia sangatlah dipengaruhi oleh faktor-faktor telah dijelaskan diatas (dengan tanpa faktor politik pemerintahan), dan konsep pendidikan Islam yang kita harapkan adalah sesuai dengan al-Qur’an dan al-Hadits serta sesuai dengan fitrah manusia.










DAFTAR PUSTAKA

Arifin,muzayin.2009. KAPITA SELEKTA PENDIDIKAN ISLAM. JAKARTA; bumi aksara.
Nata, Abuddin, , 2006. MODERNISASI PENDIDIKAN ISLAM DI INDONESIA, Jakarta : UIN JAKARTA PRESS         cet. I





[1] Nata, Abuddin, , 2006. MODERNISASI PENDIDIKAN ISLAM DI INDONESIA, Jakarta : UIN JAKARTA PRESS         cet. I

[2] Arifin,muzayin.2009. KAPITA SELEKTA PENDIDIKAN ISLAM. JAKARTA; bumi aksara. Hal 47


[3] ibid

[5] ibid

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar